
Mengenal Gaya Belanja Generasi Z: Karakteristik, Tren Konsumsi, dan Strategi Pemasarannya – Generasi Z (Gen Z) saat ini memegang peranan kunci dalam lanskap demografi, baik di tingkat global maupun nasional. Berdasarkan data Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, Gen Z mendominasi proporsi populasi Indonesia dengan persentase mencapai 27,94%. Angka ini terbukti melampaui kelompok Generasi Milenial (25,87%) dan Generasi X (21,88%).
Mengenal Gaya Belanja Generasi Z: Karakteristik, Tren Konsumsi, dan Strategi Pemasarannya
Dominasi kuantitas tersebut menempatkan Gen Z sebagai target konsumen baru yang sangat potensial bagi dunia industri. Namun, memenangkan kebiasaan konsumsi angkatan ini bukanlah perkara mudah. Nilai-nilai kehidupan, preferensi, serta gaya hidup Gen Z sangat dipengaruhi oleh era pertumbuhan mereka yang serba digital.
Pembagian Generasi Menurut Teori Sosiologi
Untuk memahami keunikan Gen Z, penting untuk melihat klasifikasi kelompok usia berdasarkan Theory of Generations yang dicetuskan oleh Graeme Codrington dan Sue Grant-Marshall (2004). Teori ini membagi perjalanan manusia modern ke dalam lima rentang generasi:
-
Baby Boomers: Lahir pada rentang tahun 1946 – 1964.
-
Generasi X: Lahir pada rentang tahun 1965 – 1980.
-
Generasi Y (Milenial): Lahir pada rentang tahun 1981 – 1995.
-
Generasi Z: Lahir pada rentang tahun 1996 – 2010.
-
Generasi Alpha: Lahir pada rentang tahun 2011 – 2025.
Sebagai generasi yang lahir di tengah pesatnya perkembangan internet, Gen Z tumbuh menjadi kelompok yang sangat terampil menggunakan teknologi, kritis, serta selektif dalam mengambil keputusan.
Keunikan Karakter Gen Z: Menjunjung Otentisitas dan Pengalaman Hidup
Salah satu faktor utama yang membedakan Gen Z dengan generasi pendahulunya adalah cara mereka memandang panutan atau influencer (Key Opinion Leader).
Riset dari UMN Consulting yang melibatkan 1.321 responden Gen Z (usia 17–24 tahun) di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa Gen Z memilih role model yang memiliki kesamaan nilai dan pandangan hidup secara otentik. Berbeda dengan Milenial yang mudah tertarik karena ikatan emosional, Gen Z sangat kritis terhadap citra kepribadian yang dibuat-buat. Jika seorang tokoh publik terbukti tidak jujur, Gen Z tidak ragu untuk memboikot atau menjauhinya.
Selain itu, identitas Gen Z sangat dibentuk oleh pengalaman hidup dan dinamika lingkungan. Pengalaman melewati masa pandemi COVID-19 serta ancaman resesi ekonomi menjadikan mereka lebih dewasa, realistis, dan berhati-hati dalam mengelola keuangan pribadi.
Menguak Gaya Belanja dan Prioritas Konsumsi Gen Z
Meskipun sering dianggap sebagai digital native yang menghabiskan sebagian besar anggarannya untuk produk teknologi, hasil penelitian UMN Consulting justru mengungkapkan fakta menarik mengenai alokasi pengeluaran bulanan Gen Z:
1. Makanan Ringan dan Minuman Menempati Urutan Pertama (71,76%)
Konsumsi terbesar Gen Z per bulan justru didominasi oleh kategori kuliner ringan (camilan) dan minuman kekinian dengan persentase mencapai 71,76%.
2. Makanan Cepat Saji (Fast Food) di Posisi Kedua (70,55%)
Sektor kuliner kembali mendominasi urutan kedua melalui pembelian makanan cepat saji (fast food) yang mencapai 70,55%. Kecepatan dan kepraktisan menjadi alasan utama preferensi ini.
3. Kebutuhan Layanan Digital (62,07%)
Pengeluaran untuk kebutuhan digital seperti paket data internet, langganan streaming musik, maupun video berada di peringkat ketiga dengan angka 62,07%. Ngabuburit Seru ala Generasi Z: Dari Tradisi Kuliner Hingga Tren Tren Digital Ramadan
Kebiasaan Product Research dan Saluran Informasi Favorit
Dampak ketidakpastian ekonomi membuat Gen Z bertindak sebagai pembeli yang sangat bijak (smart shopper). Sebelum membeli barang—terutama produk berharga tinggi—mereka akan melakukan riset mendalam (product research) dengan memeriksa ulasan, kualitas, dan manfaat nyata barang tersebut.
Riset UMN Consulting mencatat beberapa platform utama yang menjadi rujukan Gen Z dalam mencari informasi produk sebelum berbelanja:
-
Instagram (86,45%): Menjadi platform paling populer dan dipercaya untuk mencari katalog visual serta ulasan produk.
-
YouTube (58,36%): Digunakan untuk melihat ulasan mendalam (in-depth review) berbentuk video.
-
TikTok (41,79%): Sangat diminati oleh kelompok remaja usia sekolah (15–17 tahun) untuk mencari tren produk terbaru dalam durasi singkat.
-
Televisi (14,53%): Meskipun merupakan media tradisional, siaran televisi masih dianggap lebih relevan sebagai sumber informasi produk dibandingkan platform Facebook.
Kesimpulan
Memahami gaya belanja Generasi Z memerlukan pemahaman mendalam atas nilai transparansi, otentisitas, dan kepraktisan. Bagi para pelaku bisnis dan pemasar, kunci utama memenangkan pasar Gen Z bukan sekadar menjual produk, melainkan membangun komunikasi yang jujur, menghadirkan ulasan yang relevan di media sosial favorit mereka, serta menawarkan manfaat produk yang sepadan dengan nilai uang yang mereka keluarkan.
